Saturday, October 6, 2012

Ping!: Pesan Konservasi dalam Sebuah Novel

Ping!

Di zaman teknologi sekarang ini, ping boleh jadi diartikan sebagai sebuah alert bagi para pengguna smartphone Blackberry. Lantas, apakah novel dengan judul Ping! a Message From Borneo ini mengadaptasi bunyi ping pada Blackberry Messenger? Entah. Yang pasti, duo penulis peraih juara pertama lomba novel 30 Hari 30 Buku Bentang Belia ini memang berhasil memberikan peringatan tentang konservasi alam dan satwa langka melalui bacaan ringan khas remaja ini.

Berkisah tentang dua tokoh utama, Ping dan Molly, yang dipertemukan dalam sebuah kawasan konservasi orangutan di Samboja, Kalimantan Timur. Ping adalah orangutan yang harus berpisah dengan ibunya setelah tembakan pemburu liar bertubi-tubi mengenai tubuh sang bunda. Ping kemudian diselamatkan Jong dan memulai kehidupan baru bersama Jong dan ibunya. Ping memanggilnya Ibu.

Sayang, belum sempat ia bangkit dari kesedihan sepeninggal perpisahannya dengan sang bunda, Ping harus kembali mengukir luka setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Ibu, orangutan yang menyayanginya seperti anaknya sendiri, terkapar tak berdaya. Ping sendiri yang berusaha menolong Ibu justru ikut terkena perangkap para pemburu liar. Ping dimasukkan ke kardus dengan lubang udara yang sempit. Ia siap dijual.

Ping yang selamat dari upaya jual beli satwa langka kemudian dibawa ke Samboja. Di sanalah, untuk pertama kalinya, ia bertemu Molly, Si Mata Bening yang memiliki ketertarikan yang tinggi pada kegiatan konservasi alam dan tulis menulis. Bersama Nick dan Andy, dua bule yang memiliki minat yang sama dengan Molly, mereka belajar banyak hal tentang keberadaan orangutan yang kian terancam akibat semakin sempitnya hutan tempat orangutan tinggal. Dan menjadi kian rumit karena masyarakat lebih menyukai hutan tersebut diubah menjadi lahan kelapa sawit yang secara instan lebih memiliki nilai jual.

Apakah Ping mampu mengatasi depresinya yang berkepanjangan? Akankah Molly, dengan sumbangan tulisannya, juga mampu menggugah orang lain, termasuk Archie sahabatnya, untuk lebih aware terhadap nasib hutan dan orangutan di Kalimantan?

189 halaman novel ini memang terlalu sedikit untuk memperdalam konflik yang terjalin di dalamnya. Seberapa pentingnya melestarikan orangutan, undang-undang apa yang melindungi satwa langka tersebut, apa saja sangsi yang didapat para pemburu dan pembalak liar, serta bagaimana masyarakat bisa turut serta berperan dalam konservasi orangutan, mungkin hal tersebut dapat disertakan ke dalam konflik yang ada.

Namun, secara umum, pesan dalam novel ini tersampaikan dengan baik lewat penuturan yang seadanya dan apa adanya. Riawani Elyta mampu membuat alur cerita Molly yang sederhana menjadi penuh kesan. Ending-nya pun begitu manis. Shabrina WS sendiri yang dikenal piawai dalam menulis cerita fabel memberikan sentuhan lembut pada karakter Ping yang menyimpan segenggam luka.

Oh, saya menyukai bagian ketika Ping menggambarkan kondisinya serta lingkungan sekitarnya sesuai dengan nalar yang terasa dekat dengan kehidupan orangutan: rasa sepi yang digambarkan seperti tertusuk duri-duri salak hutan (hal. 71), atau rangkaian peristiwa yang dialaminya seperti sulur-sulur yang saling berkaitan (hal. 126). Manis sekali.

Satu hal yang bagi saya agak janggal -dan ini mungkin terlalu teknis- yaitu tentang Molly yang membawa travel bag ke Kalimantan (hal. 35). Aneh. Karena dalam novel ini, Molly digambarkan sebagai seseorang yang pernah aktif di LSM Gerakan Penyelamatan Satwa Langka (GSPL). Setidaknya, ia tahu bahwa ransel/backpack lebih cocok dibawa ke lapangan dibanding travel bag. Oya, satu lagi, baru kali ini saya menemukan seseorang yang memakai piyama sebagai pakaian tidurnya saat berada di basecamp (hal. 80). Rapi banget ^^v

Terakhir, salut untuk misi yang dibawa oleh dua penulis yang tak pernah bersitatap secara langsung ini. Sejujurnya, saya merinding sejak pertama kali membaca ucapak terima kasih di halaman pembuka novel tersebut. Betapa upaya konservasi alam dan satwa langka sesungguhnya dapat dilakukan oleh siapa saja dengan metode apapun. Meski mereka bukan lulusan Biologi, meski tak pernah sekalipun menjejak Kalimantan -ah, saya sungguh tertohok pada bagian ini-.

Seperti segmentasi yang memang diharapkan di awal, semoga buku ini memang menjadi bacaan yang mengesankan bagi remaja-remaja di penjuru Indonesia. Hingga membuka kembali ruang-ruang berpikir mereka, agar tak melulu membahas cinta, boyband, atau sekadar menari a la Gangnam Style. 

Novel Ping & Greeny ^^



***
Judul | Ping! a Message From Borneo
Penulis | Riawani Elyta & Shabrina WS
Penerbit | Bentan Belia
Tahun Terbit | 2012
Tebal | 142 hlm.
ISBN | 978-602-9397-17-8

38 comments:

  1. Thank you ai utk resensi n koreksinya, good luck y, jd ingin nari gangnam nh, hehe :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba lyta. eeh, jangan pake gangnam style. pilih produk indonesia aja: tari kuda lumping ^^

      Delete
  2. Hehe..benar,ngga harus jd seorang biolog untuk ikut menjaga dan mengampanyekan lingkungan...dan media untuk itu bisa apa saja,seperti dgn buku yg menggunakan bahasa ringan seperti 'Ping..' ini..
    thx aj utk share resensi nya.. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi sebagai lulusan biologi dan suka nulis juga, aku agak tersindir, yu. haha... mereka aja bisa, kenapa aku diem aja? maksudnya pengen juga bisa menuangkan ide2 seputar biologi ke dalam tulisan :D

      Delete
  3. Makasih Mbak sudah baca PING. Makasih juga untuk resensinya. semoga menang ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih juga udah mampir, mba brin ^^

      Delete
  4. aduh ai, pake gangnam style sih dibelakangnya :p
    aku suka review ini sorotannya adalah Ping terlebih dahulu sebelum Molly. memang itu titik penting yang membedakan buku ini dengan yang lain.
    semoga review ini berhasil menang ya, semangka :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan kenapa gangnam style itu masuk dalam fokus kamu sih, ziyy :D

      sebenernya bingung mau narik cerita dari mana dulu. tapi sepertinya emang lebih asyik dimulai dari Ping. yooo semangka, neng!

      Delete
    2. soalnya aku belum pernah ngedance gangnam style,
      hahha :D

      Delete
    3. wah, kalah dong sama keponakanku yang baru 4 tahun O.o"

      Delete
  5. Temanya yang langka menjadikan buku ini memang layak diganjar juara. Selebihnya, remaja punya alternatif bacaan. Setuju banget. Eniwei, ada lho travel bag yang sekaligus jadi ransel. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, betul. dan pesan konservasinya jadi dibuat sederhana.

      ehya, fatah, jadi tuh kalo di novelnya, penulis seolah mendikotomikan antara travel bag dan ransel. ada juga satu scene ketika si Molly menggeret si travel bagnya itu. jadi terkesan gak ada tanda2 kalo travel bag itu sekaligus jadi ransel XD

      Delete
  6. Gmana ya kalo ping disuntik pake virus mutasi, trus dia berubah jadi jenius dan balas dendam sama penculiknya.
    Mirip2 rise of d planet apes gituh.
    #ditoyorpenulisnovelnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya itu gak akan terjadi karena penculiknya keburu tertangkap polisi setempat :))
      #eksperimendigagalkan

      Delete
    2. nanti genrenya udah bukan buat belia. xixi

      Delete
    3. Jadinya ping season 2.
      *sainganCintaFitri

      Delete
  7. Jadi, ka ai kapan bikin novel berbau biologi? #eh

    kyanya novelnya segar tuh ka. *es buah kali segar*

    ReplyDelete
    Replies
    1. #eh kapan yaa kapan? :D

      iya, fi. bahasanya mengalir. bisa cepet selesai bacanya ^^

      Delete
  8. Jadi pingin baca novel "Ping" ini,,, *kasih dunk ai chan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. jauh dari peradaban yaa rinsan :D
      sini sini ke Jakarta dulu..

      Delete
  9. hmm...alur yang ringan dan menyegarkan. skor nyaris sempurna.mengesankan, kak ai!

    ReplyDelete
    Replies
    1. asmaaa... knapa kamu jadi anonymous gitu? hehe.. makasih udah komen yaa :)

      Delete
  10. ternyata Ping itu orang utan yaa.. judulnya bagus deh. trus bener banget mba, tema begini jarang ada yg nulis, tema beda penting buat nambah wawasan kita kan :D

    seperti biasa, resensinya bagus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya. nama orang utag gitu. namanya lucu2. Ada juga Jong, Hong, :D
      yayaya, tema yang tak biasa yaa.. #bungkus

      Delete
  11. emang kalau di basecamp di hutan 'ga boleh' atau 'ga bisa' pakai piyama po, Ai?

    ReplyDelete
    Replies
    1. jawabannya boleh dan bisa, mba. cuma mungkin jarang banget kali yaa. temenku pernah kerja di samboja itu dan bule-nya gak ada yang bawa piyama. hehe...

      terkait efisiensi pakaian ketika di lapangan aja sih.

      sama halnya ketika aku begitu tertarik ketika mba des dkk ke karjaw trus pas turun ke laut punya kostum yang berbeda setiap harinya ^^

      Delete
    2. "sama halnya ketika aku begitu tertarik ketika mba des dkk ke karjaw trus pas turun ke laut punya kostum yang berbeda setiap harinya "

      nah, ini karena aku adalah orang darat. jadi ga punya pengalaman di laut--bawa baju ganti 2 hari, hahaha. mungkin yang pakai piyama di camp itu juga bukan orang utan, eh, orang yang terbiasa hidup di hutan gitu, Ai?

      Delete
    3. sama seperti komenku tentang pilihan Molly memakai travel bag, di sini, Andy (Andrea) digambarkan kuliah di jurusan biologi dan dia anak lapangan. Abangnya (Nick) dan bapaknya juga orang lapangan. keliatannya sih mereka udah familiar dengan hutan..

      kalo di kampusku dulu, sebelum terjun ke lapangan (hutan atau laut), kita ada pelatihannya dulu. minimal briefing lah. apa aja yang harus dibawa, pakai baju seperti apa, dsb :)

      Delete
  12. @Abang: aku ngiranya juga Ping itu nama tokoh ceuenya, hueheh. ternyata nama si orang utan.

    btw, kenapa gitu si orang utannya dikasi nama Ping?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kenapa yaa? aku menduganya terinspirasi dari ping-nya BBM. kan sama2 berkaitan dengan message tuh. hehe..

      Delete
  13. nice resensi ai, jd kpengen baca novelnya...

    btw ktanya indonesia mw tukeran komodo sm panda cina ya, mudah2an kali ini pemerintah lbh selektif klo mw tukeran hewan gtu, jgn kyak kasus gorilla yg d schmutzer... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, baru tau, din..
      etapi emang iklim di Indonesia cocok gitu dengan si panda? hmm..

      Delete
  14. baca resensinya, jadi pengin baca bukunya.
    resensi yg apik.
    jempol untuk ai. :)

    ReplyDelete
  15. Replies
    1. resensi trpilih, tepatnya, mba. gak pake peringkat juara kayaknya ^^
      makasih yaa mba naqie..

      Delete

Terima kasih untuk tidak meninggalkan pesan berbau SARA dan spam di sini ^^v