Monday, October 14, 2013

Pukul Sebelas Malam



Selamat pagiii...!


Perkenalkan, namaku Rin. Aku perempuan yang sedang berusaha terbang menggapai sejumput harapan meski sayap kiriku terluka dan tak jarang membuatku nyeri setiap kali aku mengangkasa.


Apakah kau masih mengingatku? Aku yang setiap pukul sebelas malam menyapamu. Tapi kau tidak ada. Dan kusadari bahwa dunia kita memang berbeda. Kau lebih memilih berkawan akrab dengan mentari dan tak sekalipun memperhatikanku.


Tapi shubuh tak pernah bosan mempertemukan kita. Sejak kokok ayam bersahut-sahutan hingga kawanmu -Si Mentari itu- menarikmu dan membawamu pergi. Menjauh.


Selamat Pagi!


Dan kusadari bahwa kita memiliki pagi yang berbeda. Pagiku adalah malammu. Sampai kapanpun akan begitu. Kecuali salah satu dari kita mengalah dan membuat definisi pagi yang satu. Tapi tak ada yang mau mengalah untuk itu. Tidak kau. Begitu juga denganku.


Kepada shubuh kusampaikan sebuah pesan, "Aku terluka, tapi sayapku tidak patah. Mimpiku pun masih menggantung di langit-langit asa. Dan aku masih ingat untuk terbang tinggi dan menggapainya. Selamat pagi. Dan selamat tinggal."

***

Fiksi mini di atas saya buat saat Mba Desi Puspitasari membuat giveaway berhadiah buku Pukul Sebelas Malam yang belum lama ia terbitkan secara indie pada tahun 2012 yang lalu. Pada akhirnya saya tetap memesan buku tersebut pada Sang Penulis karena saya memang ingin sekali memilikinya.

Saya mengenal karya Desi Puspitasari awalnya hanya sebatas tulisan-tulisan di blognya. Kemudian beranjak ke cerpen-cerpen yang ia buat dan menemukan rasa tulisan yang sama seperti dalam blognya itu: mengalir dan tak terhentikan. Saya selalu suka pemilihan kata yang ia pakai untuk menggambarkan sesuatu. Ceplas-ceplos, apa adanya, dan liar. Hehe. Membaca cerpennya seolah membaca novel/cerpen terjemahan. Tema kumcer-nya sendiri banyak yang menarik. Saya suka dengan suatu karya yang memberi info baru dalam tulisannya. Dan saya menemukan itu di kumcer Pukul Sebelas Malam

Oya, berhubung buku ini diterbitkan secara indie melalui NulisBuku.com, maka naskahnyapun dapat terus diperbaharui. Saya sendiri saat itu memesan buku yang sepertinya masih trial and error. Tata letaknya masih seadanya. Font-nya besar-besar. Kesimpulan ini saya buat karena tak lama kemudian kawan saya menghadiahkan buku yang serupa, dengan judul yang sama, dari penulis yang sama pula, tapi secara isi ternyata sedikit berbeda. Bukan hanya tata letaknya yang menjadi lebih rapi atau ukuran bukunya yang lebih panjang sedikit, tetapi juga cerpen-cerpen yang disajikan ternyata tidak semuanya sama.

dua buku pukul sebelas malam di rumah ^^
Dan bersyukurlah saya. Karena saya tak hanya bisa membaca sebelas cerpen dari Desi Puspitasari, tapi lebih banyak lagi. Hoho...

BTW, beberapa cerpen dalam kumcer ini pernah dimuat di beberapa koran nasional, jadi saya pikir buku ini cukup recommended untuk dibaca siapa saja yang ingin cerpennya muncul di koran pula.

Suatu saat, mungkin kumcer ini bisa dilirik penerbit mayor sehingga pembacanya lebih luas lagi. :)


Judul | Pukul Sebelas Malam
Penulis | Desi Puspitasari
Penerbit | NulisBuku.com
Tahun Terbit | 2012
Tebal | 125 hlm
ISBN | -

2 comments:

  1. ooh kumcer ya.. kukira novel n dikasih sinopsisi disini hihi.. *kuciwa.. judulnya bikin penasaran sih :D

    ReplyDelete
  2. sama mba binta, aku kira novel...judulnya asli menarik kek dikasih tali hihihi

    ReplyDelete

Terima kasih untuk tidak meninggalkan pesan berbau SARA dan spam di sini ^^v