Thursday, October 10, 2013

Makrifat Daun Daun Makrifat


Sajak-sajak ini adalah serbuan dari langit. Akan tetapi, ia tidak menjadikan sastra terpencil. Lihatlah ia juga berbicara tentang pemogokan, kalau yang dimaksud dengan kenyataan ialah penderitaan. Sajak-sajak ini adalah sebuah pemberontakan, pemberontakan metafisik terhadap materialisme. Pemberontakan dari jenis yang paling sederhana. Tidak melahirkan syuhada. Tidak bersuara, tapi menyeluruh. Beradab dan mulia.
Sebagian sajak-sajak ini sajak diam, harus dibaca diam-diam, tanpa irama. Sebangsa yang membuai, tetapi tidak mengajak untuk bergoyang. Semacam pepatah-petitih. Diam juga bagian dari irama.

Ada sajak terang, ada sajak gelap. Terang benderang karena mudah dicerna dan tidak mengandung misteri. Gelap, karena susah dimengerti. Pernahkah Anda dalam hidup ini berbahagia tanpa mengetahui persis sebabnya, karena cinta, misalnya? Perasaan-perasaan sejenis itulah yang ingin diungkapkan melalui kata-kata dalam sajak itu. Habis, manusia adalah teka-teki yang tak pernah selesai.

[Hal. 5]

Agaknya tiga paragraf, khususnya paragraf terakhir, di atas menjawab kesan saya terhadap buku ini, heeu. Sejujurnya saya penikmat sastra yang amatir. Tak paham makna dibalik sajak-sajak yang tertuliskan, tapi mencoba menuntaskan halaman buku yang amat tipis ini sampai habis. Seseorang di Goodreads secara blak-blakan menyatakan ketidaksukaannya pada karya Kuntowijoyo yang satu ini. Baginya, novel yang dibuat Sang Sejarawan lebih 'nendang' dibanding kumpulan sajaknya.

Nyatanya, saya sendiri tak mengenal banyak sastrawan Indonesia sehingga nama Kuntowijoyo sampai di telinga saya asal lalu saja. Buku inipun adalah karya Kuntowijoyo yang pertama kali saya baca. Saat itu saya menemukan bukunya di rak buku-buku jadul sebuah toko buku. Setelah tuntas membaca seluruh isinya, saya lalu menyertakan buku ini dalam kantung belanja saya. Sederhana saja. Buku ini sangat murah, seharga Rp 4.500. Sesekali, mungkin saya ingin membacanya lagi, pikir saya saat itu.

Ketika menulis review ini, saya sempat mencari info tentang sosok Kuntowijoyo. Akhirnya saya tahu bahwa kumpulan sajak ini dibuat ketika ia sudah mengidap penyakit meningo encephalitis. Iapun tutup usia pada tahun 2005 di usianya yang menginjak 61 tahun.

Seperti yang disampaikan di awal, ada sajak yang terang dan gelap. Saya mungkin tak bisa mendalami maknanya, namun izinkan saya berbagi beberapa sajak yang meninggalkan kesan seperti berikut ini:

Demikianlah gelas yang pecah
Tak kembali ke laut
Dan sayap yang patah
Hanya menulis huruf-huruf mati
Tanpa makna
Kecuali jika engkau percaya mukjizat
Dan, kun fayakun

Di antara nama-nama indah
Aku pilih Al-Hayyu
Yang mengalirkan oksigen ke ujung pohon
Dan menggoda kerisik cemara

Ya Hayyu

Aku percaya keajaiban O2
Yang mengalir lewat darah
Dan menyebarkan virus makrifat

***
Judul | Makrifat Daun Daun Makrifat
Penulis | Kuntowijoyo
Penerbit | Gema Insani Press
Tahun Terbit | 1995
Tebal | 68 hlm
ISBN | 979-561-290-5
Published with Blogger-droid v2.0.10

Wednesday, October 9, 2013

Kuingin Waktuku Jadi Jembatanku Menuju Surga

"Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak dapat dihentikan atau dikendalikan. Ini adalah ketetapan alam yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Setiap detik pergi, berarti telah berlalu bagian dari hidup kita. Dan itu takkan kembali selamanya. Manusia adalah gabungan dari detik demi detik itu. Dan di akhir detik dalam hidup itulah, manusia akan mati. Bersegeralah memanfaatkan detik itu dan menjadikannya untuk melakukan amal yang bermanfaat di dunia dan akhirat." -hal. 9
Saya amat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja -terkhusus muslim/ah- yang butuh bacaan tentang manajemen waktu. Tema seputar manajemen waktu tentu sudah banyak yang membahasnya. Mulai dari shaing penulis lokal hingga akan kita dapati tips-tips dari penulis berskala internasional. Namun, dari sekian banyak buku yang beredar, akan kita dapati ulasan yang hampir seragam. Bahwa segala aktivitas dalam hidup ini dikaitkan dengan hal-hal duniawi semata.

Berbeda dengan buku-buku kebanyakan, buku yang merupakan kumpulan artikel penulis di rubrik Majalah Tarbawi ini menitikberatkan pada pentingnya keridhaan Allah SWT dalam setiap waktu yang kita habiskan. Dengan mengetahui tujuan hidup kita, yaitu untuk mencapai keridhaan Allah SWT, maka kita akan memandang waktu ini dengan cara yang berbeda.

Disajikan dalam bentuk sharing penulis tentang pengalamannya dalam mengatur waktunya menjadi produktif, bermanfaat, dan penuh makna, membuat buku ini jadi terasa membumi. Setiap kata-kata di dalam babnya dapat menjadi ajang kontemplasi diri. Membuat pembaca sejenak merenungkan kembali kehidupan yang telah dan akan ia jalani. Tips-tips yang disajikanpun berbeda dari buku-buku kebanyakan. Semuanya memang selalu dikembalikan pada hakikat manusia sebagai hamba Allah SWT.

Buku ini cukup tipis, 75 halaman saja. Namunwjika pembaca benar-benar menghayati setiap bab yang tertuliskan, insyaAllah waktu yang dijalani dapat menjadi jembatan menuju surga-Nya kelak.



Judul | Kuingin Waktuku Jadi Jembatanku Menuju Surga
Penulis | Ir. Abduldaem Al Kaheel
Penerbit | Tarbawi Press
Tahun Terbit | 2011
Tebal | 75 hlm
ISBN | 978-602-901-304-7


Published with Blogger-droid v2.0.10

Monday, October 7, 2013

Mari Merayakan Luka

launching, book signing, dan diskusi buku Festival :D

Saya mengenal Alfi pertama kali melalui dunia maya. Tarian katanya membuat saya betah berkunjung ke blog penulis kelahiran Serang ini. Namun, tak pernah saya bersitatap dengannya. Sekalipun. Ah, mungkin sekali dua saya pernah bertemu juga. Hanya, mungkin rupa yang tak terekam dalam ingatanlah yang menjadi penghalang bagi kami untuk saling sapa.

Saya mengenal Ijonk pada awalnya lewat jawaban unik yang ia lontarkan sewaktu debat kandidat caka dan cawaka BEM UI  berlangsung di Fakultas MIPA.


"Satu tambah satu sama dengan?" tanya seorang mahasiswi.
"Sakinah mawaddah warahmah," katanya.


Kemudian, saya terseret ke dalam aforisma yang ia buat. Hingga waktu mengajak saya mengenal lebih banyak karyanya yang lain. Puisi-puisi Ijonk kerap mampir di halaman Kompas rupanya.
Saya lantas berjumpa dengan keduanya sekaligus, Alfi dan Ijonk, lewat buku yang mereka garap bersama. Saya menyambut baik kehadiran buku ini.

Festival namanya.

Buku ini merangkum karya-karya sastra Alfi dan Ijonk dalam bentuk aforisma, puisi, serta prosa mini yang sebagian besar diambil dari blog/catatan masing-masing penulis. Cover bukunya yang hitam plus judul Festival yang beraneka warna seolah pas sekali dengan apa yang tertulis di halaman pertama buku setebal 145 halaman ini.


: teruntuk mereka yang sedang merayakan luka.
Bagaimanapun ada cinta.


Lantas, apakah buku ini banyak berkisah tentang luka akibat cinta? Entahlah. Tiap pembaca tentu bebas menyimpulkan makna dibalik sebuah tulisan. Saya sendiri tak ingin ambil pusing untuk menginterpretasikan lebih jauh hasil karya Sang Penulis. Cukuplah saya menikmati setiap untai kata yang terangkai indah. Pun saya pikir, hadirnya buku ini bukan untuk membincangi hal tersebut.

Yang paling saya sayangkan adalah buku ini diterbitkan secara Indie. Entah karena memang tren karya sastra berupa puisi yang meredup di pasaran, hingga penerbit tak ingin ambil risiko kecuali menerbitkan karya sastrawan yang telah diakui namanya. Atau memang kedua penulis ini tak ingin mengkomersilkan karyanya. Sekadar untuk mengumpulkan "sampah-sampah dunia maya" mereka. Ah, padahal, buku ini layak dibaca oleh lebih banyak orang lagi.

Maka, sembari menunggu karya mereka terbit lagi, mari nikmati jejak-jejak kata mereka lewat blog:


http://ijonkmuhammad.tumblr.com/
http://alfisyahriyani.tumblr.com




Judul | Festival
Penulis | Ijonk Muhammad & Alfi Syahriyani
Penerbit | Langit Sastra
Tahun Terbit | 2013
Tebal | v + 145 hlm
ISBN | -


Published with Blogger-droid v2.0.10