Saturday, August 11, 2012

La Tahzan for Broken Hearted Muslimah

"Wanita, kalian tahu, baiklah, akan sy kasih tahu salah-satu rahasia besar mereka: ada sebagian dari mereka yang mampu menyembunyikan perasaan cinta bertahun2, bertahun2 lamanya, tanpa seorang pun tahu, tanpa bocor setetes pun." -Tere Liye
 
Entah mengapa aku tertarik untuk memasukkan quotes Tere Liye di statusnya tanggal 19 Januari 2012 lalu itu. Kupikir ada sedikit keterkaitan dengan review yang akan kubahas. Yaa, hanya sedikit. karena dulu bagiku seorang wanita yang patah hati lebih disebabkan karena cintanya yang terpendam. Tak terkatakan. Tapi kemudian harus rela ia hapus jika seseorang yang menghiasi mimpi indahnya ternyata tak dapat dimilikinya. Menyedihkan.
Namun membaca buku La Tahzan for Broken Hearted Muslimah seolah memberi gambaran baru. Ada banyak luka hati yang dirasakan para muslimah, seperti yang mereka ceritakan dalam buku tersebut. Begitu dalam, tak terlupakan. Yang seringkali mengungkung mereka untuk menatap masa depan yang lebih baik. Dan kusadari bahwa patah hatiku tak lebih besar dibandingkan apa yang mereka rasakan

Terdapat 15 kisah yang menceritakan tentang pengalaman patah hati para penulis, bagaimana perasaan mereka, hingga langkah apa saja yang dilakukan agar terlepas dari epiosde patah hati itu. Ada kisah-kisah yang begitu menyentuh, tapi ada pula kisah yang menurutku kurang pas dengan tema patah hati yang diinginkan. Mungkin itulah kekurangan dalam Antologi ini. Bahwa setiap penulis membawa gaya menulisnya masing-masing ke dalam buku itu. Pun aku tak boleh berekspektasi terlalu tinggi dengan gaya menulis yang inginnya seperti yang kumau.

Meski tulisan Mba Asma hanya terdapat di kata pengantar dan akhir tulisan,  tapi tulisan itu menyempurnakan keseluruhan isi buku itu. Apalagi disertai tips-tips jika patah hati. Oya, aku juga suka petikan dalam kisah berjudul Pangeran Tak Jadi Datang menjemput

"Sayalah seorang putri yang tidak jadi dijemput pangeran. tetapi sekarang sang putri tidak hanya menunggu di atas menara istana, karena menunggu itu rasanya membosankan. Perlahan, sang putri menuruni tangga menara dan memulai kehidupan barunya dengan membagi cintaya bukan hanya untuk sang pangeran yang entah kapan datang menjemput, tapi juga untuk keluarga dan orang-orang di sekitar yang selama ini terlupakan.

Sang putri mulai menata hidup dan membersihkan hatinya agar lapang saat menerima kedatangan pangeran yang sesungguhnya."
[Leyla Imtichanah, hal. 138]



btw, ada kisah yang kayaknya "aku(novi)" banget

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk tidak meninggalkan pesan berbau SARA dan spam di sini ^^v